Berawal dari obrolan (yang tak direncanakan) YM disuatu siang, Aul ( nama aslinya sih Doni Maulistya), mengabarkan kalau dia akan datang ke Jakarta pertengahan November ini. Tepatnya hari ke 13 (nope, ga ada sial2nya sama sekali kok.) Bersama rombongan YBK (Yayasan bagong Kusudiarja) dari Yogyakarta, akan datang ke Jakarta untuk acara pementasan Monolog Butet Kertaredjasa di Taman Ismail Marzuki; 15 – 18 November 2007.
Singkat cerita, Aul ”ngundang” (kenapa pake tanda kutip, karena meskipun statusnya undangan, tapi tiket tetep beli sendiri.. hehe :p) saya dan kawan2 lain di Jakarta untuk nonton pagelaran ini. Ya istilahnya temu kangen lah, karena terakhir kali aku ketemu Aul itu sekitar bulan Mei 2007; Wira Wiri Jogja 1. Setelah pertemuan dan kenal Aul pertama kali di bulan Maret 2007 saat kita motret bareng di acara Sekatenan Jogja; di Alun alun Utara Jogja lokasinya. (kok jadi curhat tentang ketemuan sama Aul ya?? Oke, kedipkan mata, kita kembali ke topik..)
Akhirnya diambil kesepakatan sementara kalau kita akan cari hari untuk bisa bareng2 nonton Sarimin. Oh iya, Sarimin itu judul monolog Pak Butet kali ini. Akhirnya datanglah hari yang ditunggu (yupe, saya nunggu2.. setelah beberapa hari ketar ketir takut ga jadi nonton atau paling tidak jadi2nya nonton sendirian…)
Minggu sore, tanggal 18 November, siang hari, aku confirm ke Pakde Sanityasa apakah kita jadi nonton bareng Sarimin ini atau ga. Pakde juga masih nunggu confirm ke Tondo (Pratanda Nugraha Respati), karena sejak tadi pagi jam 4, Tondo sudah berangkat motret billboard untuk keperluan kantor. Ya mudah2an sore nanti Tondo dah balik ke Cempaka Putih. Yes, akhirnya confirm semua persyaratan2 tadi. Berangkat….. Setelah berbincang sementara di rumah Pakde Sanityasa, kita meluncur menuju Cempaka Putih untuk jemput Tondo. Dari sana, barulah kami bergerak ke Taman Ismail Marzuki.
Sesampainya disana, kami disambut Aul. Setelah mengucap salam dan menanyakan kabar masing, kami membeli tiket pertunjukan. Kelas balkon untuk 3 orang. Pakde, Tondo, aku. (Terima kasih Pakde untuk tiketnya.. ) Waktu masih menunjukan pukul 19 waktu Indonesia ambyar, hehe ga ding waktu Indonesia bagian barat. Masih 1 x 60 menit menuju dimulainya pertunjukan. Waktu itu kami manfaatkan untuk mengisi perut (urusan perut sih ya..). Ehem ehem, Pakde, maturnuwun meneh yo.. =)
Yupe, jam 8 kurang 10 menit. Kami beranjak masuk ke dalam Graha Bakti Budaya. Kami duduk di balkon atas, tepat di tengah tengah. Lampu2 masih menyala, sementara Pak Djaduk Ferianto dan rekan2 mulai masuk kedalam panggung. Tondo mulai mengeluarkan Nikon nya lengkap dengan lensa telenya. Disebelah kiri saya, Pakde mengeluarkan Leica R8 nya dengan rol film tersisa 7 jepretan lagi. Sementara saya, ding ding ding… loading…. yak nyadardeh ada sesuatu yang salah; Kenapa Canon EOS350D saya lensanya lensa wide 18-55mm ya??? Kenapa tadi dari rumah ga nyiapin Tamron 70-300mm ya? Padahal kan, wuaaaaaaaa.. tidakkkkk….
Sementara saya masih manyun dan gumun karena ga bawa lensa tele (eh jadi inget nama foldernya bu guru Dita a.k.a Anindita Abdullah di fotografer.net, ”i don’t need tele lens”; inget ini jadi rada naik semangat motretnya.. ), Pak Butet sudah mulai menyapa para hadirin yang datang. Lampu mulai padam, dan monolog pun dimulai…
Mungkin pernah suatu hari Anda bertemu Sarimin. Tak sengaja anda berpapasan dengannya di jalan. Anda melihatnya tengah berjalan dengan seekor monyet dipikulan yang dibawanya. Melihat penampilannya, Anda langsung tahu kalau Sarimin adalah seorang tukang topeng monyet keliling. Anda mungkin malah tak hanya melihatnya sekali. Anda sering melihat Sarimin lalu lalang. Seperti ada Sarimin dimana mana. Karena memang begitulah, hampir setiap hari, sepanjang hidupnya, Sarimin selalu keliling keluar masuk kampung. Usianya sudah 54 tahun. Dan selama itu pula nasib membuatnya konsisten menjadi tukang topeng monyet keliling,
Suatu hari, secara tak sengaja, Sarimin menemukan KTP yang tergeletak di pinggir jalan. Entahlah, apakah Sarimin berniat baik atau sekedar spontan, ketika ia akhirnya mngambil KTP itu dan bermaksud mengembalikan kepada pemiliknya. Tapi ia buta huruf. Ia tidak bisa membaca, KTP siapa itu. Lalu ia merasa kalau ia lebih baik mendatangi kantor polisi untuk menyerahkan KTP yang ditemukannya itu. “Biar nanti Pak Pulisi yang nganter ke pemiliknya,” ujar Sarimin.
Sama sekali Sarimin tak pernah menyangka, bahwa urusan KTP itu tak sesederhana yang dikiranya. Ia sama sekali tak pernah menduga, betapa justru itu merupakan awal perubahan nasibnya. Di kantor polisi, ia dibiarkan menunggu, karena polisi sibuk mengurus perkara yang lebih besar. Ketika akhirnya seorang polisi secara tak sengaja melihat Sarimin, dia malah disalahkan : karena dianggap tak cepat cepat menyerahkan KTP yang ditemukannya itu. Karena ternyata KTP itu adalah KTP Hakim Agung!
Dari sinilah perubahan nasib itu membuat Sarimin mulai menyadari, betapa ia berhadapan dengan sesuatu yang tak sepenuhnya ia pahami. Sesuatu yang bisa membolak balik nasibnya. Apa yang selama ini ia anggap baik, bisa berbail salah. Apa yang ia yakini benar, ternyata bisa salah. Karena seperti kata pengacara yang (seharusnya) membelanya, ”karna benar, maka kamu salah!”

Sarimin dengan pikulan topeng monyetnya..

Sarimin berjalan kaki keliling kota

Sarimin berbincang dengan monyetnya

Malam hari, Sarimin tertidur menunggu Pak Polisi yang masih sibuk

Hingga keesokan harinya, Sarimin masih tetap menunggu..

Sampai malam hari lagi..

Akhirnya Sarimin pun ditemui seorang Polisi

dan mulai di-interogasi

interogasi makin menyudutkan dan membingungkan Sarimin; Polisi meminta uang pelicin untuk membebaskan Sarimin dari dakwaan yang sama sekali tidak ia lakukan. Tapi Sarimin tidak memiliki uang sama sekali..

hingga akhirnya Sarimin dijebloskan kedalam bui..

pergantian babak, diiringi dengan kesenian musik yang dipimpin oleh Pak Djaduk Ferianto

Kuaetnika, Sinten Remen

babak berikutnya, Binsar, pengacara Sarimin muncul

Binsar sedang “berbicara” dengan nurani nya.. antara membela Sarimin, atau malah menambah penderitaan Sarimin yang tak besalah..

Binsar menemui Sarimin di bui nya.. Mereka berbincang, perbincangan yang tidak seimbang lebih tepatnya. karena Sarimin hanya semakin tersudut saja, bukannya dibela..


Sarimin hanya bisa pasrah akan nasibnya… dia tetap didalam bui


Sarimin; Kamu benar, maka kamu salah..
ya itulah tadi “ringkasan” monolog Sarimin yang bisa sya share disini.
Nah, kalo yang ini suasana saat semua crew masuk ke panggung untuk diperkenalkan dan patut diberi tepukan tangan tanda salut..


Mau tau pemandangan asli ditempat saya duduk? Nih…


Selamat malam semua, saya pulang dulu…