masih di hari yang sama dengan 2 seri sebelumnya. Tetapi ini siang harinya, dan sangat terik.
Kami sekeluarga (besar tapi ga besar, karena tahun ini kami tidak bisa kumpul secara full team), nyekar ke makam para leluhur. Tak lama keluarga Pakde bude Jogja datang, kami segera bergegas.
Makam pertama yang kami kunjungi, tidak jauh tempatnya. Tepat berada di belakang rumah. Pesarean Mbah Jogosuro.
Aku sudah tanya-tanya dari jaman kecilan dulu, siapa Mbah Jogosuro ini. Bude2 dan Ibuku memberi jawaban kabur yang serupa. Mereka berkata juga tidak begitu paham persisnya, tetapi kalo mendengar dari para leluhur lainnya semasa mereka masih hidup, Mbah Jogosuro adalah cikal bakalnya keluarga kami di Jenar. Mbahnya mbah buyut ku mungkin ya.. Aku cuma tahu sampai garis siap Mbah Buyutku dari pihak ibu. Mbah buyutku, Mbah Ali Muhammad. Mbah kakung ku, Mbah Sastro Sagi. Keduanya adalah tentara. Keempat anaknya, 1 almarhum pakdeku, 2 budeku, dan bungsu ibuku, tidak ada yang di didik militer. Hehehe..
Sebelum jadi panjang ceritanya, saya langsung ke foto-fotonya saja. Hampir sama perasaan saat baru sampai di Semarang, agak2 “kesetanan” jeprat jepretnya. Yang kebanyakan foto lapar mata..

Pesarean Mbah Jogosuro, dibelakang rumah

adikku yang perempuan


Bombom, dan Pakde Santoso. Pakde lagi terima telpon dari Fadel, cucu pertamanya.

Bude Dal. Neneknya Bombom. Beliau yang menjaga rumah Jenar sehari hari.

Anak ke-3 dan anak ke-4 dari Mbahku.


pengantin baru. Savitri, sepupuku di Jogja dan suaminya.

Suasana pemakamam Clumprit. Disana kami nyekar di makam sanak famili leluhur.

Destinasi berikutnya, pemakaman Pandonsongo. Disini Mbah Kakung dan Mbah putriku bersemayam secara berdampingan. Pemakaman ini terletak di pinggir jalur rel KA yang mengarah ke Jogja.
Mbah berkaos SBY itu namanya Mbah Karto. Tetangga rumah di Jenar yang selalu membantu keluarga kami. Friendly sekali pribadinya.

Pakde Wid. Pakde ku tertua saat ini. Karena Pakde Yon di Bandung sudah kumpul sama bapak ibunya di Surga.
Tampak sebuah kotak amal kecil beralaskan kursi kayu. Kotak amal ini ditempatkan di “pintu masuk” pemakaman.


nisan Mbah Kakung. Makam mbah putri belum dibuatkan nisan. Menunggu genap waktunya. Rencananya akan dibuatkan sama persis dengan Mbah Kakung.


Bukti foto lapar mata. Bude bude ku dengan bentuk payung.. Sori bude. Hehehe…

Kalo aku lagi main ke Jogja, beliau yang jadi ibuku. Bude Ning, di Jogja.



dan terakhir untuk Mbah Putri, yang bila berdoa selalu menyebut semua nama anak dan cucunya tanpa terlewatkan satu pun..
Semoga baik baik di alam sana, kami baik baik saja disini
Pamit Mbah..

Mbah Kakung & Mbah Putri

Recent Comments