Bus Stop – Solo



7 November akhir pekan kemarin, saya dan Nuken pergi main ke Taman Pintar Jogjakarta. Sudah sering kami melewati tempat ini, tapi baru kal ini masuk kedalam dan melihat lihat.
Ada satu foto dari sekian banyak fotonya Wid yang saya suka. Salah satu spotnya ada di Taman Pintar ini. Trims Wid, buat contekannya.. :p





Taman yang pintar, tapi saya ndak pinter pinter motretnya…
25 Oktober 2009
Siang hari yang panas di Pasar seni Ancol
Pameran foto Urbantropia







di luar gedung pameran


lepas lihat lihat foto Urbantropia, bergeser nonton pameran sepeda modif


Sisanya, sambil jajan dunkin donuts, berkeliaran aja di dalam Pasar Seni





Pas mau ke parkiran, ada tenda Komunitas Kamera Lubang Jarum Indonesia. Ketemu sama Ivan disana..


Ivan

Dah ah pulang, belum ke gereja

25 September 2009
Seri terakhir dari rangkaian Mudik lebaran tahun ini.
Besok tanggal 26 september subuh, saya dan keluarga sudah kembali lagi ke Jakarta.
Sore sebelumnya, saya pergi lagi ke Magelang.
Bersama Nuken, duduk duduk saja di alun-alun kota ini.
Pamit,




23 September 2009












Hujan dan berkabut saat turun untuk pulang









23 September 2009.
Sambil menunggu antrian mandi, dan rebusan indomie.

“istana negara” Jenar.



menjemur cucian..


mengeringkan rambut..

pergi ke pasar

bombom sudah selesai mandi, sekarang giliran saya mandi…
masih di hari yang sama dengan 2 seri sebelumnya. Tetapi ini siang harinya, dan sangat terik.
Kami sekeluarga (besar tapi ga besar, karena tahun ini kami tidak bisa kumpul secara full team), nyekar ke makam para leluhur. Tak lama keluarga Pakde bude Jogja datang, kami segera bergegas.
Makam pertama yang kami kunjungi, tidak jauh tempatnya. Tepat berada di belakang rumah. Pesarean Mbah Jogosuro.
Aku sudah tanya-tanya dari jaman kecilan dulu, siapa Mbah Jogosuro ini. Bude2 dan Ibuku memberi jawaban kabur yang serupa. Mereka berkata juga tidak begitu paham persisnya, tetapi kalo mendengar dari para leluhur lainnya semasa mereka masih hidup, Mbah Jogosuro adalah cikal bakalnya keluarga kami di Jenar. Mbahnya mbah buyut ku mungkin ya.. Aku cuma tahu sampai garis siap Mbah Buyutku dari pihak ibu. Mbah buyutku, Mbah Ali Muhammad. Mbah kakung ku, Mbah Sastro Sagi. Keduanya adalah tentara. Keempat anaknya, 1 almarhum pakdeku, 2 budeku, dan bungsu ibuku, tidak ada yang di didik militer. Hehehe..
Sebelum jadi panjang ceritanya, saya langsung ke foto-fotonya saja. Hampir sama perasaan saat baru sampai di Semarang, agak2 “kesetanan” jeprat jepretnya. Yang kebanyakan foto lapar mata..

Pesarean Mbah Jogosuro, dibelakang rumah

adikku yang perempuan


Bombom, dan Pakde Santoso. Pakde lagi terima telpon dari Fadel, cucu pertamanya.

Bude Dal. Neneknya Bombom. Beliau yang menjaga rumah Jenar sehari hari.

Anak ke-3 dan anak ke-4 dari Mbahku.


pengantin baru. Savitri, sepupuku di Jogja dan suaminya.

Suasana pemakamam Clumprit. Disana kami nyekar di makam sanak famili leluhur.

Destinasi berikutnya, pemakaman Pandonsongo. Disini Mbah Kakung dan Mbah putriku bersemayam secara berdampingan. Pemakaman ini terletak di pinggir jalur rel KA yang mengarah ke Jogja.
Mbah berkaos SBY itu namanya Mbah Karto. Tetangga rumah di Jenar yang selalu membantu keluarga kami. Friendly sekali pribadinya.

Pakde Wid. Pakde ku tertua saat ini. Karena Pakde Yon di Bandung sudah kumpul sama bapak ibunya di Surga.
Tampak sebuah kotak amal kecil beralaskan kursi kayu. Kotak amal ini ditempatkan di “pintu masuk” pemakaman.


nisan Mbah Kakung. Makam mbah putri belum dibuatkan nisan. Menunggu genap waktunya. Rencananya akan dibuatkan sama persis dengan Mbah Kakung.


Bukti foto lapar mata. Bude bude ku dengan bentuk payung.. Sori bude. Hehehe…

Kalo aku lagi main ke Jogja, beliau yang jadi ibuku. Bude Ning, di Jogja.



dan terakhir untuk Mbah Putri, yang bila berdoa selalu menyebut semua nama anak dan cucunya tanpa terlewatkan satu pun..
Semoga baik baik di alam sana, kami baik baik saja disini
Pamit Mbah..

Mbah Kakung & Mbah Putri

Ok, sebenarnya aku bingung mau kasih judul apa untuk seri ini. Karena sebenarnya tidak ada satu pun penampakan Mbah jemu didalamnya.
Tapi karena objek2 fotoku adalah keluarga beliau, ya sudah, sekalian saja menyambung judul seri sebelumnya.
Masih di tetangga belakang rumah, anak-anak dan putu-putu Mbah Jemu sedang bersiap untuk perjalanan ke Sragen. Masih dalam nuansa silaturahmi saat Idul fitri, mereka akan mengunjungi sanak famili yang lain.
Bangga, sederhana, dan menyenangkan. Itu yang bisa saya tangkap pagi itu saat ditengah-tengah mereka. Dengan mobil bekas yang baru mereka beli, mereka sangat antusias untuk melakukan perjalanan keluarga ini.
Dua putu dari Mbah Jemu, Bowo dan Nurul. Aku mengambil gambar mereka beberapa kali. Perkenalanku dengan mereka saat terjadi banjir besar di Jakarta tahun 2002 lalu. Rumah mereka di daerah Jakarta utara terendam air. Mereka sekeluarga mengungsi ke rumahku, padahal rumahku juga kebanjiran. Waktu itu Bowo masih kecil (sekarang juga tetap kecil sih), dan Nurul masih bayi dan dibedong.
Tokoh berikutnya yang saya ambil gambarnya adalah Mas Untung. Putra bungsu dari Mbah Jemu yang merantau di Kalimantan. Baru kali ini aku bertemu dengannya. Selama ini kalau saya pulangke Jenar, yah bertemunya dengan anak-anak yang lain.
Masih banyak anggota keluarga lainnya, tapi kebanyakan waktu saya lewatkan untuk bercanda bersama mereka.
Perjalanan ini dipimpin oleh ayahnya Bowo dan Nurul, Mas Budi namanya. Seorang kenek mobil box salah satu perusahaan korek api di Jabotabek. Seorang pekerja yang keras, dan minta didoakan agar bisa naik pangkat jadi supir, tidak melulu kenek. Sayang saya tidak mengambil gambarnya.
Satu pagi yang bernilai buat saya, terima kasih untuk kehangatannya..


Nurul


Bowo, dengan sangu pemberian ibuku..

Mas Untung dan Ibunya, Mbah Rah..

Mobil baru mereka… Selamat berlebaran, hati-hati di jalan…
Setelah nyekar di pesarean Eyang Semarang, kami sekeluarga “ngulon” ke Jenar, Purworejo.
Ya disinilah kampung halaman yang sebenarnya. Perjalanan dari Semarang di utara dan Purworejo di selatan ditempuh sekitar 5 jam, apalagi kalau bukan karena macet.
Sekitar jam 4 sore sampai di rumah. Sisa hari yang ada, saya manfaatkan untuk nengok Nuken di Magelang. Padahal dari Semarang ke Purworejo melewati Magelang. Tetapi anggota keluarga yang lain ingin segera istirahat di rumah, jadi ya di drop terlebih dahulu. Malam harinya dilewati dengan beristirahat.
Dan inilah pagi tanggal 22 September nya. Cuaca cerah, dan mood juga lagi bagus. Dan saya mulai mencari Bombom, keponakanku…

Itu dia, di dalam kamar. baru selesai mandi katanya


bombom dan neneknya sedang di kamar

sudah berhasil diajak keluar tapi masih malas-malasan..

Bombom dah berhasil diajak untuk “menyat”, berkunjunglah kami ke rumah Mbah Jemu. Tetangga di belakang rumah.

Mbah Jemu dan istrinya, Mbah Rah. Kalo ibuku manggilnya Lek Jemu dan Mbak Rah.


di depan pintu rumah.

didalam rumah.


suguhan di meja tamu..

salah satu putu dari Mbah Jemu

Setelah berlebaran dan ngobrol ngalur ngidul, saya dan bombom pun pamitan pulang….
Selesai foto keluarga dan berpamitan dengan keluarga bulek Gini, kami sekeluarga bergerak menuju Tanah Putih, masih di kota yang sama, Semarang.
Sealain untuk berlebaran dengan keluarga disana, tujuan lain yang tidak kalah pentingnya adalah untuk nyekar Eyang.
Eyang mendiami surga sejak 5 tahun yang lalu. 2 hari sebelum Didit, adik laki laki ku membuka usia ke 19. Kenapa aku menyebut namanya disini? Karena, dialah putu kesayangan Eyang. Awal-awal ayah ibuku berkeluarga, baru ada saya dan didit, kami sekeluarga tinggal di daerah Pramuka jati, Salemba. Bertetangga dengan Eyang. Dari kecil kami sudah dekat dengan almarhumah. Sisiran rambutku hingga sekarang ini yang kadang menjadi bahan olok olok kawan pun aku yakin Eyang yang membentuknya. Ngga akan pernah aku ganti lagi untuk menghormati beliau..
Hari itu, kali pertama kunjungan saya, ibu dan iin adik perempuan saya ke pesarean Eyang Karena, hanya bapak dan didit yang ikut mengantar Eyang pulang ke Semarang dari Jakarta di malam Eyang menutup usia.
Jadi teringat malam itu di lobi UGD RS Carolus, aku gendong Eyang yang sudah sangat kurus badannya keuar dari mobil untuk masuk ruangan UGD. Masih bisa tereka ulang pula, sore itu, saat aku pulang kuliah, ku sempatkan untuk mampir ke rumah Eyang. Dia minta dinyalakan kipas angin, tetapi.. pantulkan ke dinding. Biar tidak begitu dingin katanya. Masih banyak kenangan lainnya yang berkenaan dengan Eyang.
jaid melayang layang gini pikiranku. Kiatlanjut ke foto ya. Saya sharingkan saat kami sekeluarga berjalan kaki dar rumah ke pesarean Eyang..











putuku, duniaku, jagatku, rajaku…. (Eyang Suharti, 09-12-1929 / 05-11-2004)
Recent Comments