Museum Iptek TMII

Temenku, Alwan, datang ke Jakarta dari Jogja. Uhmm, alasannya apa ya? Oh iya, dia mau ngambil foto2nya yang diikutin di Pameran 1000 foto gawaennya Fotografer.net di Museum Bank Mandiri beberapa bulan yg lalu. Oh, ngga kok, saya ga ikutan pameran, gada yg lolos kurasi foto2 yang saya kirimin, hihihi.. harap maklum.

 

Dah lama ga ke taman mini, terakhir kali kesana mungkin ya masih jaman2 sekolah dasar lah, biasa, study tur.. (Caelah gayanya…). Yupe, itu dulu.. Tapi yang mau di-share sekarang bukan kenangan jaman SD dulu. Ini cerita sehari aja.. Yupe, ada waktu luang di akhir pekan, so, kita main deh ke taman mini. Saya, Alwan, dan satu lagi temen baik dari FN, Wredy.

 

Kita mulai ya…

img_5893.jpg

Tadaaa… setelah muter2 di kompleks TMII, akhirnya kita sepakat untuk singgah di Museum Iptek. Iya iya, sebelumnya kita hunting ke taman burung, tapi ga da yang bisa di share disini. Lha wong foto2nya, pas foto burung2an semua. Hehehe..

img_5896.jpg

 

Yang ini, uhmm, apa namanya? Wis mbuhlah, tapi suka aja liatnya. Ngebayangin kalo itu adalah jemari tangan, yang mengapit kelereng mungkin? Ah entahlah… Imajinasi ga mutu ya gini ini..

img_5892.jpg

pertama kita naik tangga..

img_5890.jpg

dan masih naik lagi.. (errrr…..)

Tapi setelah sampai diatas, kita bisa liat “pemandangan” kaya gini.. (btw, kok ga ada orang lewat ya??!!)

img_5899.jpg

atau yang ini..(klo saya sih lebih suka yang kedua ini..)

img_5901.jpg

masuk yuk…

sungkem dulu sama Mbah Albert, “Sehat mbah?”

img_5903.jpg

Selesai sowan sama Mbah Albert, sekarang kita keliling museum. Hmm, kemana dulu ya enaknya. Jadi bingung, pegangan ah…

img_5908.jpg

 

Disana ada tangga, tapi sayangnya ga boleh naik.. (hehehe, sori ya kalo pose dan komposisinya standar… abis tangganya ga mau bergaya sih..)

img_5911.jpg

 

Kalo tangganya di deketin, akan terlihat seperti ini polanya.. Tertarik juga sih liat yang kaya gini, bukannya apa2, cuma keinget tulang punggung aja yg sering pegel2 gara2 salah posisi kalo duduk.. (emang gimana duduknya???)

img_5912.jpg

 

Ngomong2 soal duduk, ndelongsor dulu ah.. capek juga muter2. Ini si alwan, mungkin lagi liat2 sekeliling museum, mencari cari apa yang bisa di-frame-kan… Kalo ada yang “nt” kasi tau ya Wan.. hehe..

img_5916.jpg

 

masih dalam keadaan ndelongosor (tunggu tunggu, ndelongsor, bahasa indonesia apa ya??), nunduk sedikit, ngeliatnya kaya gini… Peter Parker.. (kayanya sie..)

img_5929.jpg

Selanjutnya menjadi terasa lebih menyenangkan, setelah menemukan yang ini..

img_5968.jpg

dilanjut dengan yang ini..

img_5969.jpg

atau yang ini??? jangan pada saru ya pikirannya.. aw..aw…

img_5975.jpg

Fiuh.. sudah sudah, sekarang kita masuk ke studio cahaya yukkk…

Jujur aja, ga gitu ngerti sama berbagai macam demo tentang cahaya disana, pokoknya seneng aja liatnya..

 

Ada yang kaya gini

img_5950.jpg

dan seperti ini ( suka deh sama yang ini…)

img_5956.jpg

 

Puas main di dalam studio cahaya, kita keluar.. eh, ada kaca nih, lucu juga… narsis ah..

Long live Sikil!!!

img_5964.jpg

 

 

Dah yuk, kita turun.. dah hampir sore, perut juga dah laper… turun turun turun…

img_5976.jpg

 

Oh iya, diperjalan kita turun ke lantai dasar, aku liat ada satu kursi ini dibalik ruangan berkaca… Kasian aja liatnya… Jadi inget lirik lagunya Lene Marlin, “I’m sitting down here, but hey you can’t see me….”

img_5978.jpg

 

Selamat selamat, dah sampai bawah, duduk dulu sebentar, sekalian foto keluarga buat kenang2an.. kekekekeke… Yang kiri, Wredy (kecapean banget kayanya); sebelahnya, Alwan. Saya?? dibalik kamera… huaaaa.. ga keliatan dong….

img_5992.jpg

 

Gitu deh ceritanya… singkat ya, harap maklum. Oke deh, selamat sore semuanya. Salam sayang untuk orang2 yang terdekat dihati kamu semua…

img_5989.jpg

 

Sincerely yours,

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Sarimin; Karena benar, maka kamu salah

Berawal dari obrolan (yang tak direncanakan) YM disuatu siang, Aul ( nama aslinya sih Doni Maulistya), mengabarkan kalau dia akan datang ke Jakarta pertengahan November ini. Tepatnya hari ke 13 (nope, ga ada sial2nya sama sekali kok.) Bersama rombongan YBK (Yayasan bagong Kusudiarja) dari Yogyakarta, akan datang ke Jakarta untuk acara pementasan Monolog Butet Kertaredjasa di Taman Ismail Marzuki; 15 – 18 November 2007.

Singkat cerita, Aul ”ngundang” (kenapa pake tanda kutip, karena meskipun statusnya undangan, tapi tiket tetep beli sendiri.. hehe :p) saya dan kawan2 lain di Jakarta untuk nonton pagelaran ini. Ya istilahnya temu kangen lah, karena terakhir kali aku ketemu Aul itu sekitar bulan Mei 2007; Wira Wiri Jogja 1. Setelah pertemuan dan kenal Aul pertama kali di bulan Maret 2007 saat kita motret bareng di acara Sekatenan Jogja; di Alun alun Utara Jogja lokasinya. (kok jadi curhat tentang ketemuan sama Aul ya?? Oke, kedipkan mata, kita kembali ke topik..)

Akhirnya diambil kesepakatan sementara kalau kita akan cari hari untuk bisa bareng2 nonton Sarimin. Oh iya, Sarimin itu judul monolog Pak Butet kali ini. Akhirnya datanglah hari yang ditunggu (yupe, saya nunggu2.. setelah beberapa hari ketar ketir takut ga jadi nonton atau paling tidak jadi2nya nonton sendirian…)

Minggu sore, tanggal 18 November, siang hari, aku confirm ke Pakde Sanityasa apakah kita jadi nonton bareng Sarimin ini atau ga. Pakde juga masih nunggu confirm ke Tondo (Pratanda Nugraha Respati), karena sejak tadi pagi jam 4, Tondo sudah berangkat motret billboard untuk keperluan kantor. Ya mudah2an sore nanti Tondo dah balik ke Cempaka Putih. Yes, akhirnya confirm semua persyaratan2 tadi. Berangkat….. Setelah berbincang sementara di rumah Pakde Sanityasa, kita meluncur menuju Cempaka Putih untuk jemput Tondo. Dari sana, barulah kami bergerak ke Taman Ismail Marzuki.

Sesampainya disana, kami disambut Aul. Setelah mengucap salam dan menanyakan kabar masing, kami membeli tiket pertunjukan. Kelas balkon untuk 3 orang. Pakde, Tondo, aku. (Terima kasih Pakde untuk tiketnya.. ) Waktu masih menunjukan pukul 19 waktu Indonesia ambyar, hehe ga ding waktu Indonesia bagian barat. Masih 1 x 60 menit menuju dimulainya pertunjukan. Waktu itu kami manfaatkan untuk mengisi perut (urusan perut sih ya..). Ehem ehem, Pakde, maturnuwun meneh yo.. =)

Yupe, jam 8 kurang 10 menit. Kami beranjak masuk ke dalam Graha Bakti Budaya. Kami duduk di balkon atas, tepat di tengah tengah. Lampu2 masih menyala, sementara Pak Djaduk Ferianto dan rekan2 mulai masuk kedalam panggung. Tondo mulai mengeluarkan Nikon nya lengkap dengan lensa telenya. Disebelah kiri saya, Pakde mengeluarkan Leica R8 nya dengan rol film tersisa 7 jepretan lagi. Sementara saya, ding ding ding… loading…. yak nyadardeh ada sesuatu yang salah; Kenapa Canon EOS350D saya lensanya lensa wide 18-55mm ya??? Kenapa tadi dari rumah ga nyiapin Tamron 70-300mm ya? Padahal kan, wuaaaaaaaa.. tidakkkkk….

Sementara saya masih manyun dan gumun karena ga bawa lensa tele (eh jadi inget nama foldernya bu guru Dita a.k.a Anindita Abdullah di fotografer.net, ”i don’t need tele lens”; inget ini jadi rada naik semangat motretnya.. ), Pak Butet sudah mulai menyapa para hadirin yang datang. Lampu mulai padam, dan monolog pun dimulai…

Mungkin pernah suatu hari Anda bertemu Sarimin. Tak sengaja anda berpapasan dengannya di jalan. Anda melihatnya tengah berjalan dengan seekor monyet dipikulan yang dibawanya. Melihat penampilannya, Anda langsung tahu kalau Sarimin adalah seorang tukang topeng monyet keliling. Anda mungkin malah tak hanya melihatnya sekali. Anda sering melihat Sarimin lalu lalang. Seperti ada Sarimin dimana mana. Karena memang begitulah, hampir setiap hari, sepanjang hidupnya, Sarimin selalu keliling keluar masuk kampung. Usianya sudah 54 tahun. Dan selama itu pula nasib membuatnya konsisten menjadi tukang topeng monyet keliling,

Suatu hari, secara tak sengaja, Sarimin menemukan KTP yang tergeletak di pinggir jalan. Entahlah, apakah Sarimin berniat baik atau sekedar spontan, ketika ia akhirnya mngambil KTP itu dan bermaksud mengembalikan kepada pemiliknya. Tapi ia buta huruf. Ia tidak bisa membaca, KTP siapa itu. Lalu ia merasa kalau ia lebih baik mendatangi kantor polisi untuk menyerahkan KTP yang ditemukannya itu. “Biar nanti Pak Pulisi yang nganter ke pemiliknya,” ujar Sarimin.

Sama sekali Sarimin tak pernah menyangka, bahwa urusan KTP itu tak sesederhana yang dikiranya. Ia sama sekali tak pernah menduga, betapa justru itu merupakan awal perubahan nasibnya. Di kantor polisi, ia dibiarkan menunggu, karena polisi sibuk mengurus perkara yang lebih besar. Ketika akhirnya seorang polisi secara tak sengaja melihat Sarimin, dia malah disalahkan : karena dianggap tak cepat cepat menyerahkan KTP yang ditemukannya itu. Karena ternyata KTP itu adalah KTP Hakim Agung!

Dari sinilah perubahan nasib itu membuat Sarimin mulai menyadari, betapa ia berhadapan dengan sesuatu yang tak sepenuhnya ia pahami. Sesuatu yang bisa membolak balik nasibnya. Apa yang selama ini ia anggap baik, bisa berbail salah. Apa yang ia yakini benar, ternyata bisa salah. Karena seperti kata pengacara yang (seharusnya) membelanya, ”karna benar, maka kamu salah!”

img_0240.jpg

Sarimin dengan pikulan topeng monyetnya..

img_0244.jpg

Sarimin berjalan kaki keliling kota

img_0252.jpg

Sarimin berbincang dengan monyetnya

img_0258.jpg

Malam hari, Sarimin tertidur menunggu Pak Polisi yang masih sibuk

img_0260.jpg

Hingga keesokan harinya, Sarimin masih tetap menunggu..

img_0268.jpg

Sampai malam hari lagi..

img_0270.jpg

Akhirnya Sarimin pun ditemui seorang Polisi

img_0272.jpg

dan mulai di-interogasi

img_0274.jpg

interogasi makin menyudutkan dan membingungkan Sarimin; Polisi meminta uang pelicin untuk membebaskan Sarimin dari dakwaan yang sama sekali tidak ia lakukan. Tapi Sarimin tidak memiliki uang sama sekali..

img_0279.jpg

hingga akhirnya Sarimin dijebloskan kedalam bui..

img_0280.jpg

pergantian babak, diiringi dengan kesenian musik yang dipimpin oleh Pak Djaduk Ferianto

img_0281.jpg

Kuaetnika, Sinten Remen

img_0285.jpg

babak berikutnya, Binsar, pengacara Sarimin muncul

img_0286.jpg

Binsar sedang “berbicara” dengan nurani nya.. antara membela Sarimin, atau malah menambah penderitaan Sarimin yang tak besalah..

img_0293.jpg

Binsar menemui Sarimin di bui nya.. Mereka berbincang, perbincangan yang tidak seimbang lebih tepatnya. karena Sarimin hanya semakin tersudut saja, bukannya dibela..

img_0300.jpg

img_0299.jpg

Sarimin hanya bisa pasrah akan nasibnya… dia tetap didalam bui

img_0304.jpg

img_0305.jpg

Sarimin; Kamu benar, maka kamu salah..

ya itulah tadi “ringkasan” monolog Sarimin yang bisa sya share disini.

Nah, kalo yang ini suasana saat semua crew masuk ke panggung untuk diperkenalkan dan patut diberi tepukan tangan tanda salut..

img_0315.jpg

img_0309.jpg

Mau tau pemandangan asli ditempat saya duduk? Nih…

img_0313.jpg

img_0309.jpg

Selamat malam semua, saya pulang dulu…

Sebagaimana Adaku

Selamat tinggal bayang-bayangku

aku takkan lagi menengok ke belakang

melihat diriku lebih besar dari sosokku

selamat tinggal pada bagian gelapku

di dalam terang aku menyaksikan

wajahku mewakili sukmaku

sebagaimana adanya..

(Sebagaimana adaku oleh Remy Sylado)

pict0673.jpg

pict0677.jpg

pict0680.jpg

down to earth – Kaliadem from my sight

Oktober satu tahun yang lalu, hari ke 27…

Kaliadem, lereng selatan Gunung Merapi dengan segala pesonanya, meski hanya tinggal debu tersisa…

img_1306.jpg

img_1307.jpg

img_1308.jpg

img_1311.jpg

img_1313.jpg

img_1315.jpg

img_1356.jpg

img_1360.jpg

img_1317.jpg

img_1294_3.jpg

The greatest treasure was nothing….

Borobudur adalah ‘gunung besar’ buatan manusia. Dalam kepercayaan adat Jawa, bahkan sebelum adanya pengaruh dari agama Buddha, gunung dipercaya sebagai simbol suci, tempat para Dewa, kediaman para Kudus. Sedangkan lautan adalah sebaliknya, negeri bawah, tempat para arwah, hiu dan setan. Borobudur berada di puncak sebuah bukit dan undakan tersentral seperti tangga untuk meraih puncaknya. Dengan puncaknya yang ditandai dengan bentuk geometris yang sederhana dan suci; stupa berbentuk lonceng.

img_1518.jpg

 

img_1536.jpg

 

Di Borobudur, perjalanan menuju puncak mencerminkan perjalanan jiwa manusia. Untuk mencapai tujuan akhir, penziarah harus melalui empat persegi di level bawah, kemudian berjalan lurus melalui galeri-galeri batu.

 

img_1593.jpg

 

 

img_1551.jpg

Kita dihadapkan pada lukisan di dinding candi. Dinding terbawah menggambarkan adegan Mahakarmavibhangga (bahasa Pali) yang menggambarkan nafsu dan kebodohan-kebodohan manusia dan karma mereka.

 

img_1569.jpg

 

 

img_1555.jpg

Di dalam setiap stupa terdapat patung Buddha. Masing-masing patung Buddha menunjukkan mudra, gerakan simbolik dari tangan dan jari yang menyatakan janji atau gagasan mistis atau magis. Sang Buddha mengangkat tangan kanannya, telapak menghadap melambangkan : Kebajikan. Sang Buddha menaikkan tangannya setinggi dada, telapak menghadap ke depan melambangkan : Bebas dari Ketakutan. Sang Buddha membentuk lingkaran dengan ibu jari dan telunjukknya menggambarkan: Hukum Lingkaran Kehidupan.

 

img_1604.jpg

 

img_1590.jpg

 

 

Tujuan akhir di titik tertinggi candi adalah sebuah stupa besar. Berdiameter 16 meter. Ketika orang pertama berusaha menuju puncak Borobudur, mereka sangat antusias. Harta apa yang ada di sana? Apakah akan ada patung emas berbalut berlian? Gigi dari Sang Buddha? Mereka sampai dan tidak melihat apa-apa.

 

img_1601.jpg

img_1557.jpg

Sang Buddha Gautama mungkin tersenyum. Di penghujung perjalanan jauh: kehampaan, kekosongan, penghapusan jiwa individual. Seperti yang pernah disampaikan oleh Sang Buddha: “There is an unborn, an always, an unmade, an infinite. If nothingness did not exist, neither would the infinite. There would be no escape.”

img_1540.jpg

 

 

The greatest treasure was nothing….

img_1515.jpg

 

 

 

.

.

.

5 jam sebelum keberangkatan kereta Taksaka yang akan membawa saya kembali ke Jakarta.

Hari kesembilanbelas di bulan Agustus, 2007 tahunnya.

-diptya wahyantara-

Satu masa dalam Parangkusumo

Nuansa sakral akan segera terasa sesaat setelah memasuki kompleks Pantai Parangkusumo, pantai yang terletak 30 km dari pusat kota Yogyakarta dan diyakini sebagai pintu gerbang masuk ke istana laut selatan. Wangi kembang setaman akan segera tercium ketika melewati deretan penjual bunga yang dengan mudah dijumpai, berpadu dengan wangi kemenyan yang dibakar sebagai salah satu bahan sesajen. Sebuah nuansa yang jarang ditemui di pantai lain.

Kesakralan semakin terasa ketika anda melihat taburan kembang setaman dan serangkaian sesajen di Batu Cinta yang terletak di dalam Puri Cepuri, tempat Panembahan senopati bertemu dengan Ratu Kidul dan membuat perjanjian. Senopati kala itu duduk bertapa di batu yang berukuran lebih besar di sebelah utara sementara Ratu Kidul menghampiri dan duduk di batu yang lebih kecil di sebelah selatan.

Pertemuan Senopati dengan Ratu Kidul itu mempunyai rangkaian cerita yang unik dan berpengaruh terhadap hubungan Kraton Yogyakarta dengan Kraton Bale Sokodhomas yang dikuasai Ratu Kidul. Semuanya bermula ketika Senopati melakukan tapa ngeli untuk menyempurnakan kesaktian. Sampai di saat tertentu pertapaan, tiba-tiba di pantai terjadi badai, pohon-pohon di tepian tercabut akarnya, air laut mendidih dan ikan-ikan terlempar ke daratan.

Kejadian itu membuat Ratu Kidul menampakkan diri ke permukaan lautan, menemui Senopati dan akhirnya jatuh cinta. Senopati mengungkapkan keinginannya agar dapat memerintah Mataram dan memohon bantuan Ratu Kidul. Sang Ratu akhirnya menyanggupi permintaan itu dengan syarat Senopati dan seluruh keturunannya mau menjadi suami Ratu Kidul. Senopati akhirnya setuju dengan syarat perkawinan itu tidak menghasilkan anak.

Perjanjian itu membuat Kraton Yogyakarta sebagai salah satu pecahan Mataram memiliki hubungan erat dengan istana laut selatan. Buktinya adalah dilaksanakannya upacara labuhan alit setiap tahun sebagai bentuk persembahan. Salah satu bagian dari prosesi labuhan, yaitu penguburan potongan kuku dan rambut serta pakaian Sultan berlangsung dalam areal Puri Cepuri. Anda bisa melihat kalender wisata Yogyakarta di YogYES.COM untuk bisa melihat proses labuhan ini.

Tapa Senopati yang membuahkan hasil juga membuat banyak orang percaya bahwa segala jenis permintaan akan terkabul bila mau memanjatkan permohonan di dekat Batu Cinta. Tak heran, ratusan orang tak terbatas kelas dan agama kerap mendatangi kompleks ini pada hari-hari yang dianggap sakral. Ziarah ke Batu Cinta diyakini juga dapat membantu melepaskan beban berat yang ada pada diri seseorang dan menumbuhkan kembali semangat hidup.

(kutipan naskah oleh Yunanto Wiji Utomo)

Inilah beberapa gambar diam yang bisa saya abadikan…

Yakinlah, arti ini lebih dari sekedar bayang bayang..

img_1377.jpg

berpijak pada bumi yang sama, rasa yang sama…

img_1351.jpg

dalam hening…

img_1403.jpg

tetap terdengar detak jantungmu..

img_1380.jpg

tak pernah hilang jejakmu…

img_1418.jpg

meski ombak membawaku pergi, aku pasti akan kembali…

img_1373.jpg

Hingga nanti di dalam masa yang lain..

img_1376.jpg

.

.

.

Tujuh tahun selepas milenium baru, minggu ketiga di bulan Agustus, di hari Jumat, tertanggal 17

dan perjalanan pun dimulai


dalam waktu tersimpan waktu…
tidak ada disana berita senang terus dan sedih terus…
Namun kita putuskan untuk berangkat, agar kita mengerti pulang…

(dikutip dari tulisan karya Remy Sylado)

img_2604.jpg