The greatest treasure was nothing….

Borobudur adalah ‘gunung besar’ buatan manusia. Dalam kepercayaan adat Jawa, bahkan sebelum adanya pengaruh dari agama Buddha, gunung dipercaya sebagai simbol suci, tempat para Dewa, kediaman para Kudus. Sedangkan lautan adalah sebaliknya, negeri bawah, tempat para arwah, hiu dan setan. Borobudur berada di puncak sebuah bukit dan undakan tersentral seperti tangga untuk meraih puncaknya. Dengan puncaknya yang ditandai dengan bentuk geometris yang sederhana dan suci; stupa berbentuk lonceng.

img_1518.jpg

 

img_1536.jpg

 

Di Borobudur, perjalanan menuju puncak mencerminkan perjalanan jiwa manusia. Untuk mencapai tujuan akhir, penziarah harus melalui empat persegi di level bawah, kemudian berjalan lurus melalui galeri-galeri batu.

 

img_1593.jpg

 

 

img_1551.jpg

Kita dihadapkan pada lukisan di dinding candi. Dinding terbawah menggambarkan adegan Mahakarmavibhangga (bahasa Pali) yang menggambarkan nafsu dan kebodohan-kebodohan manusia dan karma mereka.

 

img_1569.jpg

 

 

img_1555.jpg

Di dalam setiap stupa terdapat patung Buddha. Masing-masing patung Buddha menunjukkan mudra, gerakan simbolik dari tangan dan jari yang menyatakan janji atau gagasan mistis atau magis. Sang Buddha mengangkat tangan kanannya, telapak menghadap melambangkan : Kebajikan. Sang Buddha menaikkan tangannya setinggi dada, telapak menghadap ke depan melambangkan : Bebas dari Ketakutan. Sang Buddha membentuk lingkaran dengan ibu jari dan telunjukknya menggambarkan: Hukum Lingkaran Kehidupan.

 

img_1604.jpg

 

img_1590.jpg

 

 

Tujuan akhir di titik tertinggi candi adalah sebuah stupa besar. Berdiameter 16 meter. Ketika orang pertama berusaha menuju puncak Borobudur, mereka sangat antusias. Harta apa yang ada di sana? Apakah akan ada patung emas berbalut berlian? Gigi dari Sang Buddha? Mereka sampai dan tidak melihat apa-apa.

 

img_1601.jpg

img_1557.jpg

Sang Buddha Gautama mungkin tersenyum. Di penghujung perjalanan jauh: kehampaan, kekosongan, penghapusan jiwa individual. Seperti yang pernah disampaikan oleh Sang Buddha: “There is an unborn, an always, an unmade, an infinite. If nothingness did not exist, neither would the infinite. There would be no escape.”

img_1540.jpg

 

 

The greatest treasure was nothing….

img_1515.jpg

 

 

 

.

.

.

5 jam sebelum keberangkatan kereta Taksaka yang akan membawa saya kembali ke Jakarta.

Hari kesembilanbelas di bulan Agustus, 2007 tahunnya.

-diptya wahyantara-

10 Responses to The greatest treasure was nothing….

  1. rika says:

    the great treasure is on your self…
    found it inside ur heart…😉

  2. zelu says:

    ulasan yang menarik mas…
    terima kasih atas kesediannya untuk berbagi…

    saya kagum…
    bahkan fotonya sangat membantu sekali buat saya mengembangkan imaji saya…
    😀

  3. egodiwa says:

    @ rika : what about, “my heart is nothing..”
    @ Ulez : aku jadi ingat kata “sketsaimaji” milik Teddy Hernadi

  4. Naga says:

    sayangnya borobudur sekarang sudah mulai ditinggalkan…

    oleh orang negri sendiri …

    salut mbek blog’e 8->

  5. chelsy says:

    Yang Parangkusumo: Melow banget tulisannya, kalo dihayati bisa buat air mata seperti mau menggenang… =)
    Yang Borobudur: Aku suka ama pilihan kata-katanya, mengalir, puitis, tapi tidak terlalu berbelit-belit sehingga dapat langsung ditangkap maknanya. Dalam…
    Cerita yang ini menggambarkan dewata. Kalo satu waktu ketemu dengan objek peninggalan Singasari, mungkin bisa dipertimbangkan untuk menulis tentang Ken Arok dan Ken Dedes. Karena ini adalah kebalikannya, cerita tentang cinta dan dendam anak manusia…

  6. egodiwa says:

    @ chelsy : Chel, you can read my mind huh? aku juga seneng banget sama ceritanya arok dedes.. dendam yg ga pernah kesudahan.Thx for the appreciation ya…

  7. Wid says:

    Dan tiba² aku teringat lagi kuliah² sejarah arsitektur barat dan timur. heh.

    Sori aku nggak terlalu bisa menghayati hal² yg filosofis atau puitis, jadi yg ta’liatin foto-fotonya aja ya.😀

    Blog anyar tah Wa? Ta’link di blog-ku ya

  8. egodiwa says:

    @ Wid : gelo rasane kowe ngutarake alesane. Arep di link yo.. Monggo..

  9. simpri says:

    baru merhatiin pola batu di lantainya.saling mengunci saling mengisi.seperti…ah sudahlah (melo’ melow)

  10. diwa says:

    @ mas pri : melow boleh, asal jgn nelongso ajah.. =p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: