Urban

25 Oktober 2009

Siang hari yang panas di Pasar seni Ancol

 

Pameran foto Urbantropia

 

IMG_9214

IMG_9216

IMG_9217

IMG_9222

IMG_9234

IMG_9235

IMG_9242

di luar gedung pameran

IMG_9249

IMG_9260

lepas lihat lihat foto Urbantropia, bergeser nonton pameran sepeda modif

IMG_9264

IMG_9270

Sisanya, sambil jajan dunkin donuts, berkeliaran aja di dalam Pasar Seni

IMG_9281

IMG_9313

IMG_9291

IMG_9317

IMG_9320

Pas mau ke parkiran, ada tenda Komunitas Kamera Lubang Jarum Indonesia. Ketemu sama Ivan disana..

IMG_9335

IMG_9340

Ivan

IMG_9338

Dah ah pulang, belum ke gereja

IMG_9351

Alun-alun Magelang

25 September 2009

Seri terakhir dari rangkaian Mudik lebaran tahun ini.

Besok tanggal 26 september subuh, saya dan keluarga sudah kembali lagi ke Jakarta.

Sore sebelumnya, saya pergi lagi ke Magelang.

Bersama Nuken, duduk duduk saja di alun-alun kota ini.

Pamit,

IMG_8432-1

IMG_8410

IMG_8422-1

IMG_8427-1

Dieng

23 September 2009

IMG_8188

IMG_8189

IMG_8191

IMG_8193

IMG_8194

IMG_8196

IMG_8198

IMG_8212

IMG_8215

IMG_8228

IMG_8237

IMG_8243

Hujan dan berkabut saat turun untuk pulang

IMG_8248

IMG_8269

IMG_8281

IMG_8287

IMG_8288

IMG_8289

IMG_8294

IMG_8311

end

Aktivitas pagi , Jenar (pagi kedua)

23 September 2009.

Sambil menunggu antrian mandi, dan rebusan indomie.

IMG_8140

“istana negara” Jenar.

IMG_8144

IMG_8151

IMG_8168

menjemur cucian..

IMG_8158

IMG_8161

mengeringkan rambut..

IMG_8167

pergi ke pasar

IMG_8172

bombom sudah selesai mandi, sekarang giliran saya mandi…

Nyekar Para Leluhur, Jenar

masih di hari yang sama dengan 2 seri sebelumnya. Tetapi ini siang harinya, dan sangat terik.

Kami sekeluarga (besar tapi ga besar, karena tahun ini kami tidak bisa kumpul secara full team), nyekar ke makam para leluhur.  Tak lama keluarga Pakde bude Jogja datang, kami segera bergegas.

Makam pertama yang kami kunjungi, tidak jauh tempatnya. Tepat berada di belakang rumah.  Pesarean Mbah Jogosuro.

Aku sudah tanya-tanya dari jaman kecilan dulu, siapa Mbah Jogosuro ini. Bude2 dan Ibuku memberi jawaban kabur yang serupa. Mereka berkata juga tidak begitu paham persisnya, tetapi kalo mendengar dari para leluhur lainnya semasa mereka masih hidup, Mbah Jogosuro adalah cikal bakalnya keluarga kami di Jenar. Mbahnya mbah buyut ku mungkin ya.. Aku cuma tahu sampai garis siap Mbah Buyutku dari pihak ibu. Mbah buyutku, Mbah Ali Muhammad. Mbah kakung ku, Mbah Sastro Sagi. Keduanya adalah tentara. Keempat anaknya, 1 almarhum pakdeku, 2 budeku, dan bungsu ibuku, tidak ada yang di didik militer. Hehehe..

Sebelum jadi panjang ceritanya, saya langsung ke foto-fotonya saja. Hampir sama perasaan saat baru sampai di Semarang, agak2 “kesetanan” jeprat jepretnya. Yang kebanyakan foto lapar mata..

IMG_8054

Pesarean Mbah Jogosuro, dibelakang rumah

IMG_8058

adikku yang perempuan

IMG_8063

IMG_8064

Bombom, dan Pakde Santoso. Pakde lagi terima telpon dari Fadel, cucu pertamanya.

IMG_8065

Bude Dal. Neneknya Bombom. Beliau yang menjaga rumah Jenar sehari hari.

IMG_8068

Anak ke-3 dan anak ke-4 dari Mbahku.

IMG_8071

IMG_8074

pengantin baru. Savitri, sepupuku di Jogja dan suaminya.

IMG_8075

Suasana pemakamam Clumprit. Disana kami nyekar di makam sanak famili leluhur.

IMG_8110

Destinasi berikutnya, pemakaman Pandonsongo. Disini Mbah Kakung dan Mbah putriku bersemayam secara berdampingan. Pemakaman ini terletak di pinggir jalur rel KA yang mengarah ke Jogja.

Mbah berkaos SBY itu namanya Mbah Karto. Tetangga rumah di Jenar yang selalu membantu keluarga kami. Friendly sekali pribadinya.

IMG_8129

Pakde Wid. Pakde ku tertua saat ini. Karena Pakde Yon di Bandung sudah kumpul sama bapak ibunya di Surga.

Tampak sebuah kotak amal kecil beralaskan kursi kayu. Kotak amal ini ditempatkan di “pintu masuk” pemakaman.

IMG_8094

IMG_8096

nisan Mbah Kakung. Makam mbah putri belum dibuatkan nisan. Menunggu genap waktunya. Rencananya akan dibuatkan sama persis dengan Mbah Kakung.

IMG_8097

IMG_8101

Bukti foto lapar mata. Bude bude ku dengan bentuk payung.. Sori bude. Hehehe…

IMG_8119

Kalo aku lagi main ke Jogja, beliau yang jadi ibuku. Bude Ning, di Jogja.

IMG_8114

IMG_8121

IMG_8123

dan terakhir untuk Mbah Putri, yang bila berdoa selalu menyebut semua nama anak dan cucunya tanpa terlewatkan satu pun..

Semoga baik baik di alam sana, kami baik baik saja disini

Pamit Mbah..

IMG_8095

Mbah Kakung & Mbah Putri

IMG_0696res

Mbah Jemu II, Jenar (pagi pertama)

Ok, sebenarnya aku bingung mau kasih judul apa untuk seri ini. Karena sebenarnya tidak ada satu pun penampakan Mbah jemu didalamnya.

Tapi karena objek2 fotoku adalah keluarga beliau, ya sudah, sekalian saja menyambung judul seri sebelumnya.

Masih di tetangga belakang rumah, anak-anak dan putu-putu Mbah Jemu sedang bersiap untuk perjalanan ke Sragen. Masih dalam nuansa silaturahmi saat Idul fitri, mereka akan mengunjungi sanak famili yang lain.

Bangga, sederhana, dan menyenangkan. Itu yang bisa saya tangkap pagi itu saat ditengah-tengah mereka. Dengan mobil bekas yang baru mereka beli, mereka sangat antusias untuk melakukan perjalanan keluarga ini.

Dua putu dari Mbah Jemu, Bowo dan Nurul. Aku mengambil gambar mereka beberapa kali. Perkenalanku dengan mereka saat terjadi banjir besar di Jakarta tahun 2002 lalu. Rumah mereka di daerah Jakarta utara terendam air. Mereka sekeluarga mengungsi ke rumahku, padahal rumahku juga kebanjiran. Waktu itu Bowo masih kecil (sekarang juga tetap kecil sih), dan Nurul masih bayi dan dibedong.

Tokoh berikutnya yang saya ambil gambarnya adalah Mas Untung. Putra bungsu dari Mbah Jemu yang merantau di Kalimantan. Baru kali ini aku bertemu dengannya. Selama ini kalau saya pulangke Jenar, yah bertemunya dengan anak-anak yang lain.

Masih banyak anggota keluarga lainnya, tapi kebanyakan waktu saya lewatkan untuk bercanda bersama mereka.

Perjalanan ini dipimpin oleh ayahnya Bowo dan Nurul, Mas Budi namanya. Seorang kenek mobil box salah satu perusahaan korek api di Jabotabek. Seorang pekerja yang keras, dan minta didoakan agar bisa naik pangkat jadi supir, tidak melulu kenek. Sayang saya tidak mengambil gambarnya.

Satu pagi yang bernilai buat saya, terima kasih untuk kehangatannya..

IMG_8002

IMG_8000

Nurul

IMG_7994

IMG_8010

Bowo, dengan sangu pemberian ibuku..

IMG_8007

Mas Untung dan Ibunya, Mbah Rah..

IMG_8004

Mobil baru mereka… Selamat berlebaran, hati-hati di jalan…

Mbah Jemu – Jenar (pagi pertama)

Setelah nyekar di pesarean Eyang Semarang, kami sekeluarga “ngulon” ke Jenar, Purworejo.

Ya disinilah kampung halaman yang sebenarnya. Perjalanan dari Semarang di utara dan Purworejo di selatan ditempuh sekitar 5 jam, apalagi kalau bukan karena macet.

Sekitar jam 4 sore sampai di rumah. Sisa hari yang ada, saya manfaatkan untuk nengok Nuken di Magelang. Padahal dari Semarang ke Purworejo melewati Magelang. Tetapi anggota keluarga yang lain ingin segera istirahat di rumah, jadi ya di drop terlebih dahulu. Malam harinya dilewati dengan beristirahat.

Dan inilah pagi tanggal 22 September nya. Cuaca cerah, dan mood juga lagi bagus. Dan saya mulai mencari Bombom, keponakanku…

IMG_7987

Itu dia, di dalam kamar. baru selesai mandi katanya

IMG_7966

IMG_7973

bombom dan neneknya sedang di kamar

IMG_7998

sudah berhasil diajak keluar tapi masih malas-malasan..

IMG_8024

Bombom dah berhasil diajak untuk “menyat”, berkunjunglah kami ke rumah Mbah Jemu. Tetangga di belakang rumah.

IMG_8016

Mbah Jemu dan istrinya, Mbah Rah. Kalo ibuku manggilnya Lek Jemu dan Mbak Rah.

IMG_8020

IMG_8032

di depan pintu rumah.

IMG_8027

didalam rumah.

IMG_8036

IMG_8041

suguhan di meja tamu..

IMG_8043

salah satu putu dari Mbah Jemu

IMG_8047

Setelah berlebaran dan ngobrol ngalur ngidul, saya dan bombom pun pamitan pulang….